---

Sabtu, 03 Maret 2012

Karya tulis


BAB I
PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang
Budaya Betawi merupakan percampuran adat dan budaya dari beragam etnis. Dari percampuran itulah muncul kesenian serta kebudayaan yang menjadi ciri khas Suku Betawi, seperti dalam bidang seni musik, bahasa, seni tari, seni teater, dan seni bela diri.
Kesenian dan kebudayaan yang khas tersebut, seharusnya dapat dikenal di kalangan masyarakat luas. Mengingat pusat Suku Betawi berada di ibu kota Negara, Jakarta. Namun pada kenyataannya, masih ada masyarakat Suku Betawi sendiri yang cenderung melupakan, bahkan tidak mengetahui kesenian dan kebudayaan sukunya sendiri. Ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain kurangnya perhatian dan kepedulian mereka terhadap kesenian serta kebudayaan khas Betawi. Namun, tentu saja kesenian dan kebudayaan ini masih dapat di jaga dan dilestarikan dengan cara mengenalkan hal tersebut kepada generasi penerus dan menerapkan kesenian dan kebudayaan itu dalam kehidupan sehari-hari.
Kondisi demikian, setidaknya menjadi latar belakang penulisan karya tulis ini, yakni untuk membantu mengenalkan kepada masyarakat mengenai kebudayaan dan kesenian khas Suku Betawi. Agar masyarakat dapat menjaga dan melestarikannya.
B.   Permasalahan
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka permasalahan pada karya tulis ini adalah : “Bagaimana cara melestarikan kesenian dan kebudayaan yang menjadi ciri khas Suku Betawi?”.
C.   Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan karya tulis ini adalah :
1.    Untuk memenuhi tugas mata pelajaran bahasa Indonesia kelas 9.
2.    Untuk mengenalkan kepada masyarakat mengenai kesenian serta kebudayaan yang menjadi ciri khas Suku Betawi.
3.    Untuk menambah informasi atau wawasan mengenai kesenian dan kebudayaan khas Suku Betawi.
4.    Untuk mensosialisasikan cara melestarikan kesenian dan kebudayan khas Suku Betawi.
D.   Manfaat Penulisan
Dari penulisan karya tulis ini diharapkan dapat memberi informasi mengenai kesenian dan kebudayaan Suku Betawi.
1.    Manfaat teoritis
Dapat bermanfaat dalam memperkaya literatus tentang kesenian dan kebudayaan Suku Betawi.
2.    Manfaat praktis
Dapat memberikan manfaat dan ilmu pengetahuan tentang kesenian dan kebudayaan Betawi.

BAB II
PEMBAHASAN

A.   Kesenian dan Kebudayaan Khas Suku Betawi
Kesenian dan kebudayaan Suku Betawi merupakan kebudayaan asli kota Jakarta. Kebudayaan Suku Betawi terbentuk dari akulturasi berbagai kebudayaan yang ada sebelumnya. Hal ini terjadi karena Jakarta sebagai tempat tinggal Suku Betawi merupakan daerah pesisir yang sejak dahulu menjadi pusat perdagangan. Di samping itu, sikap terbuka masyarakat Betawi dan penghargaannya yang tinggi terhadap perbedaan juga turut mempercepat akulturasi tersebut.
B.   Jenis Kesenian dan Kebudayaan Khas Suku Betawi
1.    Musik
Dalam bidang musik Suku Betawi memiliki seni Gambang Keromong yang berasal dari seni musik Tionghoa. Kemudian Tanjidor yang berlatar belakang ke-Eropa-an.
1.1  Gambang Keromong
Kesenian musik ini merupakan perpaduan dari kesenian musik setempat dengan  Cina. Hal ini dapat dilihat dari instrumen musik yang digunakan, seperti alat musik gesek dari Cina yaitu kongahyan, tehyan dan sukong. Sementara alat musik Betawi antara lain gambang, kromong, kemor, kecrek, gendang kempul, dan gong.
Pada tahun 1970-an Gambang Kromong sempat terdongkrak keberadaannya lewat sentuhan kreativitas "Panjak" Betawi legendaris "Si Macan Kemayoran", Almarhum H. Benyamin Syueb bin Jiung. Dengan sentuhan berbagai aliran musik yang ada, jadilah Gambang Kromong seperti yang kita dengar sekarang. Hampir di tiap hajatan yang ada di tiap kampung Betawi, mencantumkan Gambang Kromong sebagai menu hidangan musik yang paling utama. Seniman Gambang Kromong yang dikenal selain H. Benyamin Syueb adalah Nirin Kumpul, H. Jayadi dan Nya'at.
1.2  Tanjidor
Kesenian ini mulai dikenal sejak abad ke-18. Musik Tanjidor berasal dari kata “Jidor” yang merupakan alat musik sejenis drum. Kesenian tradisional ini banyak dipengaruhi oleh musik Eropa.
Tanjidor biasanya dimainkan oleh laki-laki dan dubutuhkan kekompakan antara satu pemain dengan pemain lainnya karena ini merupakan musik yang dimainkan secara kelompok. Kesenian ini biasa dimainkan untuk mengiringi acara adat Betawi, seperti arak-arakan pengantin, pawai, khitanan, dan hiburan lainnya.
Musik tanjidor merupakan gabungan dari alat musik tiup seperti terompet, saxophone, trombone, dan clarinet. Selain itu, juga menggunakan alat musik pukul yaitu tambur dan gamelan. Musik ini juga bisanya dilengkapi dengan biola, ringbell, dan lainnya. Lagu yang dimainkan biasanya lagu dari Jakarta misalnya Surilang, Jali-jali, Sirih Kuning, dan Kicir-kicir.
2.    Bahasa
Dialek betawi terbagi atas dua jenis, yaitu dialek Betawi tengah dan dialek betawi pinggir. Dialek Betawi tengah umumnya berbunyi "é" sedangkan dialek Betawi pinggir adalah "a". Contoh paling jelas adalah saat mereka mengucapkan kenape/kenapa'' (mengapa).
Dialek betawi pusat atau tengah seringkali dianggap sebagai dialek Betawi sejati, karena berasal dari tempat bermulanya kota Jakarta. Daerah perkampungan Betawi berada di sekitar Jakarta Kota, Sawah Besar, Tugu, Cilincing, Kemayoran, Senen, Kramat, hingga batas paling selatan di Jatinegara. Contoh penutur dialek Betawi tengah adalah Benyamin S., Ida Royani dan Aminah Cendrakasih.
Dialek Betawi pinggiran mulai dari Jatinegara, Condet, Jagakarsa, Depok, Rawa Belong, Ciputat hingga ke pinggir selatan sampai Jawa Barat. Contoh penutur dialek Betawi pinggiran adalah Mandra dan Pak Tile.

3.    Teater
Lenong merupakan teater tradisional Betawi yang diiringi musik gambang kromong, musik khas Betawi. Lakon atau skenario lenong umumnya mengandung pesan moral, seperti menolong yang lemah, membenci kerakusan dan perbuatan tercela. Yang menjadi ciri khas lenong betawi ini karena diselingi dengan lagu, pantun, lawak, dan lelucon jenaka.
4.    Ondel-ondel
Ondel-ondel adalah bentuk pertunjukan rakyat Betawi yang sering ditampilkan dalam pesta-pesta rakyat. Nampaknya ondel-ondel memerankan leluhur atau nenek moyang yang senantiasa menjaga anak cucunya atau penduduk suatu desa.
Ondel-ondel yang berupa boneka besar itu tingginya sekitar 2,5 meter dengan garis tengah ± 80 cm, dibuat dari anyaman bambu yang disiapkan begitu rupa sehingga mudah dipikul dari dalamnya. Bagian wajah berupa topeng atau kedok, dengan rambut kepala dibuat dari ijuk. Wajah ondel-ondel laki-laki biasanya dicat dengan warna merah, sedangkan yang perempuan warna putih. Bentuk pertunjukan ini banyak persamaannya dengan yang ada di beberapa daerah lain.
Di Pasundan dikenal dengan sebutan Badawang, di Jawa Tengah disebut Barongan Buncis, sedangkan di Bali lebih dikenal dengan nama Barong Landung. Menurut perkiraan jenis pertunjukan itu sudah ada sejak sebelum tersebarnya agama Islam di Pulau Jawa.
Semula ondel-ondel berfungsi sebagai penolak bala atau gangguan roh halus yang gentayangan. Namun, dewasa ini ondel-ondel biasanya digunakan untuk menambah semarak pesta- pesta rakyat atau untuk penyambutan tamu terhormat, misalnya pada peresmian gedung yang baru selesai dibangun, arak-arakan pengantin. Betapapun derasnya arus modernisasi, ondel-ondel masih bertahan dan menjadi penghias wajah kota metropolitan Jakarta.
5.    Cerita Rakyat
Cerita rakyat yang berkembang di Jakarta selain cerita rakyat yang sudah dikenal seperti Si Pitung, juga dikenal cerita rakyat lain seperti serial Jagoan Tulen atau Si Jampang yang mengisahkan jawara-jawara Betawi baik dalam perjuangan maupun kehidupannya yang dikenal "keras". Selain mengisahkan jawara atau pendekar dunia persilatan, juga dikenal cerita Nyai Dasima yang menggambarkan kehidupan zaman kolonial. cerita lainnya ialah Mirah dari Marunda, Murtado Macan Kemayoran, Juragan Boing dan yang lainnya.
C.   Faktor Penyebab Memudarnya Kesenian dan Kebudayaan Betawi
Dapat dikatakan banyak faktor yang mempengaruhi pudarnya seni dan budaya betawi. Namun, faktor yang sangat berpengaruh ialah modernisasi dan kurangnya rasa peduli masyarakat suku betawi terhadap budayanya sendiri.
D.   Upaya Melestarikan Kesenian dan Kebudayaan Betawi
Seperti yang kita ketahui, kini kesenian dan kebudayaan khas betawi tersebut sudah jarang kita temukan. Jika ada, hal tersebut hanya dapat ditemui di beberapa tempat tertentu.
Beberapa upaya pelestarian budaya Betawi terus dilakukan Pemerintah ialah :
·         Membuka cagar budaya
Selain itu, belum lama ini cagar budaya Betawi juga dibuka di Setu Babakan, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Di objek wisata yang berseting perkampungan Betawi itu, terdapat segala hal yang identik dengan kebudayaan Betawi, mulai dari seni pertunjukkan seperti tari topeng dan Lenong, adat pernikahan, beragam panganan khas seperti kerak telor, bir pletok serta Roti Buaya yang sering dijadikan hantaran dalam upacara pernikahan, juga dapat ditemui di sini.
·         Festival Palang Pintu
Pemprov DKI Jakarta sendiri sebenarnya telah melakukan berbagai upaya. Salah satunya adalah menetapkan Festival Palang Pintu sebagai festival tahunan yang dilaksanakan di Jalan Kemang Raya.
·         Mendaftarkan budaya Betawi sebagai budaya warisan dunia,
Baru-baru ini, upaya melestarikan seni budaya Betawi juga dilakukan Pemerintah DKI Jakarta dengan usaha mematenkan seni budaya Betawi sebagai warisan budaya negara Indonesia, khususnya kota Jakarta. Sebagai langkah awal, Pemprov DKI telah mendaftarkan seni tari Lenong Betawi kepada Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata sebagai salah satu warisan tak benda yang diakui secara internasional. Setelah lulus seleksi nasional, kemudian akan diajukan menjadi salah satu kebudayaan yang akan didaftarkan sebagai warisan budaya tak benda pada United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO).
·         Kebijakan pembuatan kurikulum berbasis budaya
Ketua Umum Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB), Tatang Hidayat, mengatakan kebijakan itu sudah ada, hanya saja membutuhkan penyempurnaan lebih dalam.
Menurut Tatang, UndangUndang (UU) No. 29 tahun 2007 tentang budaya menyebutkan Pemerintah DKI memiliki kewajiban untuk melestarikan budaya. Pelestarian itu dilakukan melalui pembuatan kurikulum berbasis budaya lokal. Adapun kurikulum yang tengah didorong adalah mewajibkan pelajar mengikuti kegiatan ekstrakulikuler seperti seni tari dan pencak silat.
Selanjutnya, pelajaran muatan lokal seperti PLKJ akan berisikan materi seputar budaya Betawi, seperti misal seni musik, permainan tradisional, olahraga di kalangan Betawi serta sebagainya.
Saat ini, kata Tatang, penggodokan penyempurnaan kurikulum itu sudah dilakukan dan melibatkan instansi terkait seperti Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB), Kementerian Pendidikan Nasional, Pemerintah DKI, dan peneliti Universitas Negeri Jakarta (UNJ).
·         Menggelar kongres pembentukan perda
Upaya lain yang dilakukan oleh pemerintah kota Jakarta untuk melestarikan kesenian dan kebudayaan ialah dengan  menggelar kongres pada Desember 2011 lalu. Kongres ini bertujuan melestarikan, mengembangkan dan memanfaatkan kebudayaan Betawi. Hasil kongres diharapkan membuahkan saran, masukan, dan rekomendasi dari berbagai kalangan sebagai bahan penyusunan Peraturan Daerah (Perda) tentang Pelestarian Kebudayaan Betawi.
BAB III
PENUTUP

A.   Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan di atas, maka kesimpulannya adalah kesenian dan kebudayaan Suku Betawi merupakan kebudayaan asli kota Jakarta dan memiliki jenis musik seperti Gambang Keromong, Tanjidor. Menggukan bahasa dengan 2 dialek. Dari bidang seni teater terdapat lenong. Kemudian terdapat cerita rakyat serta Ondel-ondel sebagai pertunjukan khasnya. 
Seniman atau tokoh  betawi yang terkenal dan melegenda diantaranya adalah H. Benyamin Syueb, Mandra, Pak Tile.
B.   Saran
Saran-saran yang dapat dikemukakan oleh penulis adalah sebagai berikut :
a.    Selayaknya, masyarakat Suku Betawi harus bisa menjaga kelestarian seni dan budayanya.
b.    Sebaiknya, upaya pelestarian tidak hanya dilakukan oleh pemerintah. Namun, perlu didukung dan dilakukan oleh masyarakat itu sendiri.
c.    Sebaiknya, sebagai masyarakat beretnis harus dapat melestarikan budaya dengan cara mengenalkannya kepada generasi penerus. Agar seni dan budaya dapat terjaga kelestariannya.


DAFTAR PUSTAKA


Ahira, Anne. Mengenal Kebudayaan Suku Betawi Lebih Dekat. http://www.anneahira.com/kebudayaan-suku-betawi.htm


Fernando dan Joe. 2011. Kongres Kebudayaan Betawi 2011 Upaya Melestarikan Kebudayaan Betawi. http://mediasinartimur.com/kongres-kebudayaan-betawi-2011-upaya-melestarikan-kebudayaan-betawi.html.


Latuminggi, Aprillio., dkk. Kebudayaan Suku Betawi http://www.scribd.com/doc/ 22740639/SUKU-BETAWI


Supriatna, Agus. 2008. Bahasa Indonesia untuk Kelas IX. Jakarta: Grafindo Media Pertama.


Suryani, Reno., dkk. Ceria : Pendidikan Lingkungan Budaya Jakarta Kelas 5 Smt 1. Sukoharjo: Media Kreasi


http://kppo.bappenas.go.id/files/Pelestarian%20Budaya%20Betawi%20Perlu%20Sokongan%20Kurikulum.pdf


id.wikipedia.org/wiki/Suku_Betawi.

Tidak ada komentar: